RedBlueDark SmallMediumLarge NarrowWideFluid
Home Catatan Perjalanan Catatan Perjalanan BYLT 2008 se-Asia di Singapura
Catatan Perjalanan BYLT 2008 se-Asia di Singapura PDF Print E-mail
Written by Benny Pangadian   
Thursday, 15 May 2008 07:22
lead1UNTUK ke-52 kalinya, The World Fellowship of Buddhist Youth (WFBY), organisasi kepemudaan agama Buddha seluruh dunia, mengadakan rapat khusus. Bertempat di Singapura, rapat yang hanya diikuti oleh anggota dewan eksekutif (Executive Board) ini membahas isu-isu terkini tentang perkembangan agama Buddha dari semua mazhab di seluruh dunia. Tentunya termasuk Indonesia. CARA itu tak sekadar rapat. Panitia juga menyelenggarakan even tambahan yang dikhususkan untuk anak muda berupa Buddhist Youth Leadership Training (BYLT) atau Latihan Kepemimpinan untuk Generasi Muda Buddhis.
Ajang ini diikuti oleh tujuh negara dari seluruh Asia yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea, India dan Indonesia, dengan total peserta 40 orang. Diselenggarakan di markas Singapore Buddhist Youth Mission (SBYM) mulai 4 sampai 7 April 2008. Ditambah dengan dua hari berikutnya untuk berpelesir di negara tetangga tersebut.

Khusus dari Indonesia, pada awalnya peserta yang terdaftar hanya sembilan orang. Semuanya adalah anggota Pemuda Theravada Indonesia (Patria) sebagai satu-satunya organisasi kepemudaan Buddhis di Indonesia yang menjadi anggota WFBY. Dua di antaranya adalah berasal dari Samarinda, saya dan Darwin Lawono. Sedangkan tujuh orang lainnya berasal dari Medan dan Kepulauan Riau (Kepri). Ternyata dalam pelaksanaannya, jumlah partisipan asal Indonesia menggelembung menjadi 12 orang, karena ada tiga peserta lain yang merupakan orang Indonesia namun bekerja di Singapura, sehingga mereka berpindah kelompok.
leadershipDari sembilan perwakilan Indonesia, tujuh orang asal Sumatera menggunakan transportasi kapal feri dari Batam. Sedangkan dari perwakilan Samarinda, Darwin sudah terlebih dahulu tiba di Singapura pada 31 Maret. Sehingga satu-satunya wakil Samarinda yang tersisa harus berangkat sendirian dan tiba di Bandara Internasional Changi pada 4 April pukul 14.30 Wita. Saya pun dijemput salah seorang panitia, untuk dikumpulkan dengan Dhammacari Kumarjeev dan Chetan asal India Tengah yang sudah tiba duluan. Kami melakukan sedikit perbincangan untuk bertukar informasi tentang kondisi perkembangan agama Buddha di negara masing-masing.

"Belakangan ini banyak penemuan arkeologis di India berupa barang-barang bersejarah yang berbau Buddhisme dan bersamaan dengan itu minat untuk mempelajari agama Buddha yang asli mulai tumbuh di India. Walaupun masih banyak aktivitas sabotase dan halangan yang terjadi, kami tetap ingin maju," ungkap Kumarjeev, yang juga salah seorang anggota ExBo.

Perbincangan yang hangat ini berlangsung sampai akhirnya kami harus berpijak dari Soy Bean (salah satu gerai warung kopi di bandara) untuk kembali ke anjungan kedatangan guna menjemput rombongan asal Thailand yang terdiri dari sepuluh anggota ExBo dan 20 peserta BYLT 2008. Sekitar pukul 16.00 Wita, barulah rombongan ExBo diantar ke Hotel Robertson Quay dan rombongan BYLT 2008 diantar ke vihara SBYM yang terletak di Clementie Service Road.

Sepanjang jalan, saya pun memanfaatkan waktu untuk sedikit mengenal rekan-rekan asal Thailand yang rata-rata berusia 20 tahun ke atas. Tanpa terkendala bahasa (menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin) kami pun melakukan sedikit dialog, kenal-kenalan, foto bareng dalam bus sampai tiba di lokasi. Sesampainya di sana, ternyata rombongan asal Indonesia lainnya sudah duluan sampai. Kamipun melakukan persiapan secukupnya untuk langsung mengikuti sesi pembukaan yang membagi seluruh peserta dalam enam kelompok berbeda. Lalu dilanjutkan degan jamuan makan malam pembukaan yang menampilkan hiburan aksi panggung dari sejumlah perwakilan organisasi Buddhis yang ada di Singapura. Saat tiba waktu makan malam, kami disajikan menu vegetarian. Sepanjang kegiatan, kami mengkonsumsi menu masakan yang tanpa mengandung daging sama sekali, yang walaupun tidak biasa kami santap namun tetap bisa kami nikmati.

Materinya Umum, Pelaksanaannya Beda
Kegiatan pelatihan kepemimpinan ini mulai fokus dijalankan pada hari kedua. Pematerinya adalah Dr. Ong See Yew asal Malaysia. Ia menghadapkan peserta dengan sejumlah tugas dan aplikasi materi yang sudah disiapkan. Pada dasarnya materi yang disampaikan berasal dari buku "7 Habits of Effective People" dirasa biasa dan tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan pelatihan serupa yang sering diselenggarakan di Indonesia. Hanya karena komposisi tim yang berasal negara berbeda, membuat pelatihan ini lebih berkesan.

"Materinya cukup umum, tapi pelaksanaannya yang berbeda. Karena proses dialog, pertukaran pikiran serta diskusi yang dilangsungkan melibatkan banyak perspektif yang berbeda secara global, membuat kita memperoleh wawasan baru," kata seorang peserta.

Diawali dan diakhiri dengan sesi menyanyi bersama, peserta diajarkan untuk fokus dalam menjalankan kepemimpinan atau organisasinya. Termasuk dibekali kemampuan untuk mengukur sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Tiap hari, aktivitas diawali dengan Puja Bhakti atau kebaktian pagi yang berlangsung pukul 07.00 sampai 08.00 Wita, barulah dilanjutkan dengan sarapan dan sesi kelas berikutnya.

Nuansa keakraban yang tercipta di antara para peserta mulai terasa ketika pada malam kedua, yakni Sabtu malam, 5 April. Kala itu, rombongan peserta keluar dari lingkungan vihara untuk pergi berjalan-jalan ke Orchard Road dengan menggunakan sarana transportasi umum berupa Mass Rapid Train (MRT). Kami keluar vihara pukul 21.00 Wita dan langsung menjelajah pusat Kota Singa tersebut sampai pukul 23.00 Wita.

Selain melihat kondisi Kota Singapura yang penuh dengan gaya hidup tingkat tinggi. Kami pun menyempatkan diri untuk kembali makan malam di Orchard Hawker Food Square yang mirip seperti sentra pujasera dengan menu nonvegetarian tentunya. Dipandu Rit Xu dan Mellisa Kheh yang merupakan peserta asal Singapura, kami berjalan kaki mengelilingi Orchard Road dan Bras Basah Road. Kesempatan inipun tidak disia-siakan lebih dari 30 orang rombongan untuk lebih mengenal satu sama lain baik dalam komunikasi dialogis maupun dalam aksi narsisme yang selalu gila foto. Bahkan sampai hari terakhir, tidak kurang dari 900 foto terkumpul dari empat unit kamera. Sejumlah objek foto yang sempat kami manfaatkan selain Food Square adalah stasiun MRT, gerbong kereta api MRT-nya sendiri, Plaza Singapura, Gerbang Istana Perdana Menteri Singapura dan lainnya.

Ada Goyang Poco-poco
Pada hari ketiga, pelaksanaan kegiatan ini 6 April, kelompok-kelompok peserta sudah mulai diarahkan untuk bersikap praksis. Segala wawasan dan pemahaman keorganisasian yang sudah disampaikan pada hari kedua mulai diterapkan pada keadaan masing-masing negara. Sehingga pelatihan ini berfungsi sebagai media untuk menghasilkan ide dan gagasan yang efektif untuk masing-masing area.

Dalam satu sesi peserta diminta untuk menganalisis keadaan perkembangan agama Buddha yang terjadi di negara masing-masing lalu mencoba untuk mempresentasikan di depan forum. Presentasi tersebut diambil dari analisis SWOT yang menyajikan data tentang Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang) dan Threat (Ancaman) yang ada di masing-masing negara. Sesudahnya, barulah presentasi ini disusul dengan sesi tanya jawab untuk memperjelas paparan.

Untuk pemaparan dari Indonesia, disampaikan oleh Julia Lam, Dragono Halim dan Nyanna Suriya Johnny asal Medan.
Sesi yang berlangsung secara atraktif ini juga dikolaborasikan dengan satu kuliah umum yang disampaikan oleh Bhiksu Thitadhammo asal Malaysia tentang upaya efektif untuk mempromosikan dan meningkatkan apresiasi kaum muda internasional terhadap keberadaan agama Buddha di negara masing-masing. “Kita memang tidak perlu melakukan penyebaran agama Buddha kepada semua orang, tapi kita hanya ingin fokus pada upaya pengembangan dan pemeliharaan generasi muda yang sudah Buddhis. Sehingga mereka mampu memiliki pegangan yang kuat terhadap Buddha Dhamma dan tidak gampang berpindah, seperti yang kita lihat belakangan ini,” papar Bhiksu Thitadhammo dalam materinya.

Lewat data dan fakta yang diungkapkan secara simultan, peserta pun mengetahui aneka rupa ancaman dan gangguan yang menghambat perkembangan agama Buddha di sejumlah kawasan Asia. Baik itu yang berasal dari internal maupun eksternal, dikaitkan dengan kemampuan untuk mengatur organisasi serta kualitas kepemimpinan.

Pada hari Minggu (6/4), sesi materi ditutup dengan pemaparan tentang peran World Fellowship of Buddhist Youth (WFBY; penyelenggara acara ini) sebagai institusi yang memiliki tugas untuk melakukan pembinaan kepada generasi muda Buddhis. Termasuk tentang pencapaian-pencapaiannya selama ini dan sejumlah program yang akan digencarkan. “Dengan tema ‘One Asia, One Voice’, kami mengharapkan agar masing-masing negara peserta dapat menyampaikan satu rancangan program kepada kami yang nantinya dapat dijalankan secara internasional terkait dengan isu-isu terkini yang berhubungan dengan dunia global dan peran generasi Buddha secara luas. Kami akan kumpulkan ide-ide tersebut setelah peserta pulang melalui email,” ungkap Dr Ong See Yew, fasilitator pelatihan asal dari Youth of Buddhist Association Malaysia (YBAM).

Setelah semua acara pelatihan selesai, peserta langsung diharuskan untuk bersiap-siap dengan menggunakan kostum tradisional asli negara masing-masing, untuk mengikuti jamuan makan malam di Restoran Grand Court, salah satu rumah makan vegetarian terbesar di jantung kota Singapura yang sekaligus diisi dengan tampilan kesenian khas serta pertukaran hadiah. Tentu saja batik serta kebaya menjadi kostum kebanggaan nusantara.

Singkat cerita, dari semua kesenian yang ditampilkan oleh peserta, Indonesia mendapatkan kesempatan paling akhir. Hal ini disengaja karena Indonesia menampilkan tiga atraksi sekaligus yakni dua lagu berbahasa Indonesia (“Hadirkan Cinta” dan “Di Sini Senang, Di Sana Senang” yang dinyanyikan bersama-sama) dan ditutup dengan menari Poco-poco oleh seluruh undangan.

Dua instruktur diposisikan di panggung, dan gerakannya ditiru oleh seluruh undangan. Walhasil, selama 15 menit, Restoran Grand Court heboh dengan gerakan goyang kanan kiri depan dan belakang. Nampak seluruh undangan antusias untuk meniru gerakan tari yang terkenal asal Sulawesi ini. Acara diakhiri dengan sesi tukar kado perseorangan, di mana kado yang ada ditukarkan dengan kado yang dibawa oleh Soul Partner yang sudah dipasangkan pada sore harinya. Seperti saya yang berpasangan dengan Sharon Sooh, mahasiswa jurusan psikologi usia 18 tahun yang baru saja aktif di organisasi Buddhis di Malaysia.

Kunjungi Buddha Tooth Relic Temple
Rentang waktu selama kegiatan Buddhist Youth Leadership Training (BYLT) 2008 yang diselenggarakan di Singapura beberapa hari, berlalu dengan cepat. Sebelum berpisah, rombongan sempat diajak untuk mengunjungi situs wisata di sana .

SELURUH peserta kegiatan, baik yang berpartisipasi dalam BYLT 2008 maupun yang duduk dalam dewan khusus Executive Board (ExBo) World Fellowship of Buddhist Youth (WFBY), diajak mendatangi Buddha Tooth Relic Temple atau vihara yang menyimpan relik gigi Sang Buddha sebagai tujuan pertama. Vihara yang baru berdiri sekitar setahun ini terletak di kawasan Chinatown, sebagai salah satu sentra pemukiman etnis yang ada di sana. Tidak hanya berdiri sebagai situs religi bagi umat Buddha dari semua mazhab, vihara ini juga diangkat sebagai salah satu situs wisata unggulan Singapura karena selaib memajang aneka altar Bodhisatva ala Mahayana dan Tantrayana, objek utama dari vihara ini adalah altar Buddha yang berlapis emas sebagai tempat penyimpanan gigi Sang Buddha.

"Khusus untuk ruang altar yang menyimpan arca Sang Buddha utama, semuanya menggunakan emas seberat 240 kilogram. Ruangan ini hanya bisa dimasuki oleh para Bhiksu yang menjaga vihara ini. Para pengunjung hanya bisa melihatnya lewat kaca antipeluru ini, tanpa boleh mengambil gambar. Karena sangat sensitif dengan kilatan cahaya," kata Ivy Yeo, pemandu tur selama berada di dalam vihara yang memiliki empat lantai ini.

Dengan alasan biaya perawatan yang cukup tinggi, pengelolaan vihara ini menampilkan kesan kapitalistik yang sangat tinggi. Hampir segala komponen yang ada dalam vihara ini bisa dikomersialkan dengan harga yang tidak tanggung-tanggung. Misalnya, seseorang dapat mengadopsi satu dari ribuan patung Buddha utama yang ada di aula lantai dasar dengan mengeluarkan biaya sebesar 100.000 Dollar Singapura (hampir setara dengan Rp 700.000.000). Begitupun dengan patung-patung figur non-Buddha lainnya dengan harga sekitar 3.000 sampai 5.000 Dollar Singapura.

Model penghormatan yang menggunakan uang dalam jumlah besar ini terasa cukup aneh bagi peserta asal Indonesia yang semuanya merupakan umat Buddha mazhab Theravada, namun konsep seperti ini dirasa sangat pas untuk tipikal masyarakat Singapura yang rata-rata memeluk agama Buddha sebagai tradisi yang diturunkan dari orangtuanya. Sehingga mereka yang sibuk beraktivitas, beranggapan bahwa dengan berdana di vihara ini sudah dapat memenuhi sekian persen dari kebutuhan spiritualnya. Di lain sisi, ini adalah kesempatan yang potensial bagi pihak-pihak terkait termasuk pemerintah Singapura sendiri untuk menggunakan ikon ini sebagai sumber pendapatan asli daerahnya.

Secara umum vihara ini menampilkan semua gaya dari tiga mazhab agama Buddha yang ada. Dari mazhab Theravada (Indocina, Sri Lanka dan India), ditampilkan figur utama Buddha Gotama, dari Mazhab Mahayana (Tiongkok, Jepang, Korea ) menampilkan sosok aneka tokoh ala mereka mulai dari Bodhisatva Avalokitesvara atau yang lebih dikenal dengan nama Guan Yin, Buddha Maitreya, Buddha Amitabha dan lain sebagainya dengan gaya khas oriental.

Sedangkan untuk mazhab Vajrayana (Tibet , Bhutan) menampilkan sosok Vajradhara dan roda doa "Om Ma Ni Pad Me Hum" di lantai 4. Di sini para pengunjung dapat mengucapkan permohonannya sambil memutar roda doa tersebut sebanyak tiga kali mengikuti jarum jam. Gaya doa seperti ini umum dilakukan oleh umat Buddha mazhab tersebut.

Meninggalkan Buddha Tooth Relic Temple atau yang juga disebut "Fo Ya Shi" dalam bahasa Tionghoa, rombongan diarahkan untuk pergi ke Merlion Park, tempat bertenggernya patung Merlion yang menjadi lambang kota Singapura. Puas-puaslah para rombongan berfoto di depan patung singa berbadan ikan tersebut.

Saat itu, rombongan asal Thailand sudah harus pulang terlebih dahulu. Sehingga di rute berikutnya, Esplanade dan Suntec City , tanpa kehadiran mereka. Di Esplanade yang kerap disebut sebagai Gedung Durian Singapura, peserta disuguhkan dengan bangunan tempat pagelaran seni berlangsung. Semua hiasan interior dan pajangan yang ada di tempat tersebut pun memiliki nilai seni tersendiri. Bahkan hiasan dinding juga memiliki sisi artistiknya sendiri.

Sesampainya di Suntec City, rombongan Korea dan Malaysia pun meninggalkan Singapura. Khusus untuk rombongan Malaysia, mereka meninggalkan kota itu dengan menggunakan bus yang menempuh jarak hanya tiga jam. Menyusul Malaysia, satu per satu rombongan pun meninggalkan kota Singapura untuk pulang ke tempatnya masing-masing. Acara BYLT 2008 pun resmi usai.

Last Updated on Wednesday, 11 June 2008 03:31
 

Didukung oleh

gautama

Telah Terbit

Chatta edisi Magha Puja 2551
Chatta edisi Magha Puja 2551/2008, sudah beredar dapatkan segera.